<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>mydeartears</title>
    <link>https://mydeartears.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Sat, 04 Apr 2026 05:26:43 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>O36. Remboelan</title>
      <link>https://mydeartears.writeas.com/o36?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[O36. Remboelan&#xA;p&#xA;p&#xA;p&#xA;---&#xA;p&#xA;p&#xA;p&#xA;&#34;Jeanne?&#34; &#xA;&#xA;Merasa terpanggil, Jeanne mencari-cari submber suara. Hingga seseorang dengan memakai atasan putih polos dan jeans menghampirinya. Bahkan dengan rambutnya yang agak berantakan, wanita didepannya ini bisa dibilang sangat menarik. Beberapa pasang mata sudah melirik kearahnya.&#xA;&#xA;&#34;Gue Nina. Yang di Wings waktu itu. Inget nggak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh my god! Bentukan lo kayak gini kalo nggak di tempat yang remang-remang ya? Lo Jeanina yang model ituuuu. Astaga. Hello. Lagi ngapain disini?&#34; Jeanne mengucapkan kalimat panjang tersebut dengan amat terburu-buru sambil memeluk si perempuan berambut pendek didepannya.&#xA;&#xA;&#34;Hahaha. Iya, tadi kesini sama Grettha. Tapi dia langsung ngacir waktu ketemu Bena. Jadi gue bilang gue tunggu di Remboelan aja. Lo sendiri?&#34;&#xA;&#xA;Sambil mengangguk Jeanne menarik Jay yang sedari tadi berdiri bersandar pada ralling kaca dan memeluk lengan kekasihnya dengan santai. &#34;Gue dateng sama cowok gue. Jay kenalin, ini si temen ceweknya Grettha. Harusnya sih lo inget, kan lo ketemu waktu di Wings? Nina ini cowok gue, Jayandra.&#34;&#xA;&#xA;Dibutuhkan sepersekian menit untuk Jay mengulurkan tangannya terlebih dulu pada perempuan yang berada didepan mereka. &#xA;&#xA;&#34;Halo, gue Jay.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Nina.&#34; Tangannya menyambut perlahan.&#xA;&#xA;&#34;Kalian mau makan didalem aja nggak? Please banget sama gue, ya?&#34; Sambung Nina sambil melihat kedalam restoran Remboelan yang sedari tadi mereka acuhkan.&#xA;&#xA;&#34;Boleh boleh! Lo udah tag tempat?&#34;&#xA;&#xA;Nina dengan cepat berbalik dan memasuki resto dengan santai. Jay dan Jeanne mengekor dengan cepat. Masih seperti biasanya, Jay tidak banyak bicara dan membiarkan Jeanne menariknya kesana-kemari.&#xA;&#xA;&#34;Ini bookingan Bena sebenernya, gue juga udah pesan minum. Tapi gue liat lo di luar, jadi gue samper biar gue ada temennya.&#34;&#xA;p&#xA;p&#xA;p&#xA;---&#xA;p&#xA;p&#xA;p&#xA;Beberapa kali Jay berdeham tidak jelas sambil membaca menu. Jeanne tentu saja akan memesan sate, jika ada. Sayangnya mereka tidak menyediakan menu itu. Pilihan Jeanne jatuh kepada Nasi Goreng Kambing Menteng, sementara Jay memilih Nasi Bakar Cumi Gurih. Nina? Dia bilang dia sedang diet jadi dia hanya memesan Tahu Gejrot.&#xA;&#xA;Tidak ada yang membuka pembicaraan sejak memesan menu hingga beberapa kali pramusaji bolak-balik mengantarkan pesanan ketiganya. Nina masih seperti yang Jeanne sudah pernah lihat di Wings, dia sibuk dengan ponselnya. &#xA;&#xA;&#34;Jay. Lo mau minum air gula jawa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hah? Lo mabok?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo yang mabok, anjir. Liat!&#34;&#xA;&#xA;Atensi ketiga pasang mata, dan beberapa pasang milik pramusaji memusatkan pada sedotan yang sudah hampir dimasukkan Jay kedalam mulutnya. Ujung sedotan tersebut berada di piring Tahu Gejrot milik Nina. Tawa Nina pecah sempurna. Beberapa pramusaji berusaha sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan suara sambil menutupi mulut mereka. Tawa renyah terlempar dari bibir Jay.&#xA;&#xA;&#34;Haha, sorry ya Na. Gue pesenin yang baru ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gapapa, sih. Kan belom lo minum juga. Lo minta sedotan baru aja gih.&#34;&#xA;&#xA;Pikiran buruk dan aneh berkecamuk didalam kepala Jeanne. Dia merasa sesuatu sedang terjadi. Dan sesuatu ini bukan hal baik. &#xA;&#xA;Dengan cepat Jeanne mengambil ponselnya dan mengetik pesan singkat untuk Grettha. Memohon agar Grettha dengan segera menemuinya di Remboelan. Grettha berjanji akan langsung datang begitu Bena selesai. Yang kemungkinan akan mengulur waktu selama 20menit.&#xA;&#xA;Beruntung, pesanan Jeanne datang. Saved by the bell.&#xA;&#xA;&#34;Aku makan duluan ya?&#34;  Barusan adalah suara Jeanne memecah keheningan dan membangunkan Jay dari lamunannya.&#xA;&#xA;&#34;Iya, Na. Makan aja.&#34;&#xA;&#xA;Baik si pria, ataupun kedua wanita yang berada disatu meja yang sama, merasa seperti ada sebuah sendok yang menyangkut di tenggorokan mereka. Tercekat. Panik. Khawatir. Semua berkecamuk menjadi satu.&#xA;&#xA;&#34;Hayo! Pada diem diem aja kenapa?&#34;&#xA;&#xA;Seperti biasa, Grettha memecah keheningan dengan senyumnya yang sangat indah dan suaranya yang terdengar ramah serta riang. Diikuti oleh Bena yang segera mengambil tempat duduk disebelah Nina.&#xA;&#xA;&#34;Halo, gue Bena.&#34; sapa nya pada wanita berbaju putih.&#xA;&#xA;&#34;Oh hi. Gue Nina. Tadi gue sempet liat perform lo sebentar. Lo keren banget!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hahaha. Makasih loh. Ih, gue juga mau pesan dong. Jeanne kok nggak nungguin gue sih pesannya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Keburu tua gue nungguin lo kelar dikerubutin anak SMA.&#34; Seolah lupa dengan kejadian yang baru saja terjadi, juga kedatangan pesanan milk Jay, susasanya tidak lagi terasa mencekat.&#xA;&#xA;Tapi tentu itu tidak terjadi didalam hati ketiganya. Jay, Jeanne dan Nina.&#xA;p&#xA;p&#xA;p&#xA;---&#xA;p&#xA;p&#xA;p&#xA;&#34;Nina pulang bareng Grettha yaaa?&#34; Jeanne menyampirkan jaket yang sedari tadi ia bawa tapi selalu enggan ia gunakan. Masih terlalu banyak orang dan mall ini tidak terlalu dingin.&#xA;&#xA;&#34;Eh, iya. Tadi sih perginya bareng. Gre, lo sama Bena?&#34;&#xA;&#xA;Kali ini Bena menggerakkan tangan kirinya ke kiri dan ke kanan selagi tangan kanannya memegang minuman yang sedang dia habiskan.&#xA;&#xA;&#34;No no, gue balik bareng manajer gue. Sorry ya, Gre. Next time gue bawa mobil sendiri deh!&#34; &#xA;&#xA;Sebuah tepukan hangat dari tangan Bena untuk puncak kepala Grettha berhasil membuat wanita itu bersemu malu. Dia hanya berjengit pelan dan mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;No problem. But now you&#39;ve promised. You&#39;re gonna drive me home someday!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Serem banget si nih cewek. Belum apa-apa gue udah di todong janji, dong?&#34; Lapornya pada Jeanne yang hanya di balas dengan kekehan hangat dari Jay dan Kekasihnya.&#xA;&#xA;&#34;Kalo gitu gue sama Jeanne duluan yaaa. Jauh nih rute gue.&#34; Kalimat tersebut diikuti tawa dari Jay. Sambil berdiri, ia memastikan tangannya berada di pinggang Jeanne yang juga segera berdiri. &#xA;&#xA;&#34;Bye bye! Kabarin ya kalo udah pada sampe rumah!&#34; &#xA;&#xA;Dan malam itu, tidak ada misteri yang terpecahkan. Misteri bagaimana Jay bisa salah sebut nama, juga bisa tiba-tiba hampir mengabiskan kuah Tahu Gejrot milik Nina. &#xA;p&#xA;p&#xA;p&#xA;---&#xA;p&#xA;p&#xA;p&#xA;©noircu]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>O36. Remboelan</strong>
<p>
<p>
<p></p>

<hr/>

<p><p>
<p>
<p>
<em>“Jeanne?”</em></p>

<p>Merasa terpanggil, Jeanne mencari-cari submber suara. Hingga seseorang dengan memakai atasan putih polos dan jeans menghampirinya. Bahkan dengan rambutnya yang agak berantakan, wanita didepannya ini bisa dibilang sangat menarik. Beberapa pasang mata sudah melirik kearahnya.</p>

<p><em>“Gue Nina. Yang di Wings waktu itu. Inget nggak?”</em></p>

<p><em>“Oh my god! Bentukan lo kayak gini kalo nggak di tempat yang remang-remang ya? Lo Jeanina yang model ituuuu. Astaga. Hello. Lagi ngapain disini?”</em> Jeanne mengucapkan kalimat panjang tersebut dengan amat terburu-buru sambil memeluk si perempuan berambut pendek didepannya.</p>

<p><em>“Hahaha. Iya, tadi kesini sama Grettha. Tapi dia langsung ngacir waktu ketemu Bena. Jadi gue bilang gue tunggu di Remboelan aja. Lo sendiri?”</em></p>

<p>Sambil mengangguk Jeanne menarik Jay yang sedari tadi berdiri bersandar pada ralling kaca dan memeluk lengan kekasihnya dengan santai. <em>“Gue dateng sama cowok gue. Jay kenalin, ini si temen ceweknya Grettha. Harusnya sih lo inget, kan lo ketemu waktu di Wings? Nina ini cowok gue, Jayandra.”</em></p>

<p>Dibutuhkan sepersekian menit untuk Jay mengulurkan tangannya terlebih dulu pada perempuan yang berada didepan mereka.</p>

<p><em>“Halo, gue Jay.”</em></p>

<p><em>“Nina.”</em> Tangannya menyambut perlahan.</p>

<p><em>“Kalian mau makan didalem aja nggak? Please banget sama gue, ya?”</em> Sambung Nina sambil melihat kedalam restoran Remboelan yang sedari tadi mereka acuhkan.</p>

<p><em>“Boleh boleh! Lo udah tag tempat?”</em></p>

<p>Nina dengan cepat berbalik dan memasuki resto dengan santai. Jay dan Jeanne mengekor dengan cepat. Masih seperti biasanya, Jay tidak banyak bicara dan membiarkan Jeanne menariknya kesana-kemari.</p>

<p><em>“Ini bookingan Bena sebenernya, gue juga udah pesan minum. Tapi gue liat lo di luar, jadi gue samper biar gue ada temennya.”</em>
<p>
<p>
<p></p>

<hr/>

<p><p>
<p>
<p>
Beberapa kali Jay berdeham tidak jelas sambil membaca menu. Jeanne tentu saja akan memesan sate, jika ada. Sayangnya mereka tidak menyediakan menu itu. Pilihan Jeanne jatuh kepada Nasi Goreng Kambing Menteng, sementara Jay memilih Nasi Bakar Cumi Gurih. Nina? Dia bilang dia sedang diet jadi dia hanya memesan Tahu Gejrot.</p>

<p>Tidak ada yang membuka pembicaraan sejak memesan menu hingga beberapa kali pramusaji bolak-balik mengantarkan pesanan ketiganya. Nina masih seperti yang Jeanne sudah pernah lihat di Wings, dia sibuk dengan ponselnya.</p>

<p><em>“Jay. Lo mau minum air gula jawa?”</em></p>

<p><em>“Hah? Lo mabok?”</em></p>

<p><em>“Lo yang mabok, anjir. Liat!”</em></p>

<p>Atensi ketiga pasang mata, dan beberapa pasang milik pramusaji memusatkan pada sedotan yang sudah hampir dimasukkan Jay kedalam mulutnya. Ujung sedotan tersebut berada di piring Tahu Gejrot milik Nina. Tawa Nina pecah sempurna. Beberapa pramusaji berusaha sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan suara sambil menutupi mulut mereka. Tawa renyah terlempar dari bibir Jay.</p>

<p><em>“Haha, sorry ya Na. Gue pesenin yang baru ya?”</em></p>

<p><em>“Gapapa, sih. Kan belom lo minum juga. Lo minta sedotan baru aja gih.”</em></p>

<p>Pikiran buruk dan aneh berkecamuk didalam kepala Jeanne. Dia merasa sesuatu sedang terjadi. Dan sesuatu ini bukan hal baik.</p>

<p>Dengan cepat Jeanne mengambil ponselnya dan mengetik pesan singkat untuk Grettha. Memohon agar Grettha dengan segera menemuinya di Remboelan. Grettha berjanji akan langsung datang begitu Bena selesai. Yang kemungkinan akan mengulur waktu selama 20menit.</p>

<p>Beruntung, pesanan Jeanne datang. <em>Saved by the bell.</em></p>

<p><em>“Aku makan duluan ya?”</em>  Barusan adalah suara Jeanne memecah keheningan dan membangunkan Jay dari lamunannya.</p>

<p><em>“Iya, Na. Makan aja.”</em></p>

<p>Baik si pria, ataupun kedua wanita yang berada disatu meja yang sama, merasa seperti ada sebuah sendok yang menyangkut di tenggorokan mereka. Tercekat. Panik. Khawatir. Semua berkecamuk menjadi satu.</p>

<p><em>“Hayo! Pada diem diem aja kenapa?”</em></p>

<p>Seperti biasa, Grettha memecah keheningan dengan senyumnya yang sangat indah dan suaranya yang terdengar ramah serta riang. Diikuti oleh Bena yang segera mengambil tempat duduk disebelah Nina.</p>

<p><em>“Halo, gue Bena.”</em> sapa nya pada wanita berbaju putih.</p>

<p><em>“Oh hi. Gue Nina. Tadi gue sempet liat perform lo sebentar. Lo keren banget!”</em></p>

<p><em>“Hahaha. Makasih loh. Ih, gue juga mau pesan dong. Jeanne kok nggak nungguin gue sih pesannya?”</em></p>

<p><em>“Keburu tua gue nungguin lo kelar dikerubutin anak SMA.”</em> Seolah lupa dengan kejadian yang baru saja terjadi, juga kedatangan pesanan milk Jay, susasanya tidak lagi terasa mencekat.</p>

<p>Tapi tentu itu tidak terjadi didalam hati ketiganya. Jay, Jeanne dan Nina.
<p>
<p>
<p></p>

<hr/>

<p><p>
<p>
<p>
<em>“Nina pulang bareng Grettha yaaa?”</em> Jeanne menyampirkan jaket yang sedari tadi ia bawa tapi selalu enggan ia gunakan. Masih terlalu banyak orang dan mall ini tidak terlalu dingin.</p>

<p><em>“Eh, iya. Tadi sih perginya bareng. Gre, lo sama Bena?”</em></p>

<p>Kali ini Bena menggerakkan tangan kirinya ke kiri dan ke kanan selagi tangan kanannya memegang minuman yang sedang dia habiskan.</p>

<p><em>“No no, gue balik bareng manajer gue. Sorry ya, Gre. Next time gue bawa mobil sendiri deh!”</em></p>

<p>Sebuah tepukan hangat dari tangan Bena untuk puncak kepala Grettha berhasil membuat wanita itu bersemu malu. Dia hanya berjengit pelan dan mengangguk.</p>

<p><em>“No problem. But now you&#39;ve promised. You&#39;re gonna drive me home someday!”</em></p>

<p><em>“Serem banget si nih cewek. Belum apa-apa gue udah di todong janji, dong?”</em> Lapornya pada Jeanne yang hanya di balas dengan kekehan hangat dari Jay dan Kekasihnya.</p>

<p><em>“Kalo gitu gue sama Jeanne duluan yaaa. Jauh nih rute gue.”</em> Kalimat tersebut diikuti tawa dari Jay. Sambil berdiri, ia memastikan tangannya berada di pinggang Jeanne yang juga segera berdiri.</p>

<p><em>“Bye bye! Kabarin ya kalo udah pada sampe rumah!”</em></p>

<p>Dan malam itu, tidak ada misteri yang terpecahkan. Misteri bagaimana Jay bisa salah sebut nama, juga bisa tiba-tiba hampir mengabiskan kuah Tahu Gejrot milik Nina.
<p>
<p>
<p></p>

<hr/>

<p><p>
<p>
<p>
©noircu</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://mydeartears.writeas.com/o36</guid>
      <pubDate>Tue, 08 Sep 2020 13:37:02 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>O15. Wings</title>
      <link>https://mydeartears.writeas.com/o11?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[O15. Wings&#xA;p&#xA;p&#xA;---&#xA;&#xA;Udara malam ini cukup cerah, terlihat Venus dan beberapa bintang lain disekitar si bulan yang masih mengintip malu. Jeanne merapihkan barang-barang yang daritadi dia keluarkan sambil bersenda gurau dengan Dhani sepanjang perjalan ke Wings. &#xA;&#xA;Ajakan Jo yang di iya kan oleh wanita berambut panjang ini tidak memiliki alasan khusus. Sudah hampir seminggu lebih dia hanya menginjakkan kaki nya di Voyage, toko bunga, dan tempat tinggalnya. Sungguh penat rasanya kepala Jeanne sepanjang minggu ini.&#xA;&#xA;Firasatnya tidak pernah salah, Jeanne hari ini benar-benar mengenakan pakaian yang baru dikirimkan oleh Helena beberapa hari lalu. Endorse yang kegedean, katanya. Perawakan Helena jauh lebih mungil dibanding Jeanne, Grettha dan Elle dimana tinggi ketiganya hampir menyentuh angka 170. Orang-Orang lebih sering mengira adik Keina adalah Helena, bukan Jeanne. Jeanne terkikik pelan membayangkan dia benar-benar makan dengan Jay dan siaran dengan sweatpants dan kaos oblong. Mungkin dia akan lebih memilih untuk dijemput Jay, tadi.&#xA;&#xA;&#34;Woy. Bengong sih cuy? Dua menit ya gue liatin lo ngerapihin barang tapi bengong abis itu ketawa sendiri? Kesurupan lo?&#34; Tubuh si wanita terhuyung pelan sesaat setelah pundaknya mendapat tepukan yang lumayan keras dari Dhani.&#xA;&#xA;&#34;Si kampret. Lo tuh, sama cewe alus dikit kek. Jihan betah ya sama lo macem gini?&#34; Mata Dhani menyipit ketika ia tertawa dan giginya yang lucu terpampang jelas saat ini. &#xA;&#xA;&#34;Ngga ada urusan. Gue ama Jihan mah aluuuuuuus. Makanya langgeng kan? Nggak kaya lo!&#34;&#xA;&#xA;Jeanne bergerak turun dan menutup pintu mobil dengan dorongan yang cukup. Merapihkan bajunya sesaat dan menyampirkan tasnya di bahu, ia berjalan mengitari Audi putih itu karena pintu masuk Wings ada di sebelah kanannya.&#xA;&#xA;&#34;Gausah sok superior! Gue sama Jay juga udah mau satu semester!&#34; Lidah Jeanne terjulur meledek si pria berwajah bulat itu.&#xA;&#xA;&#34;Comeback when you celebrate your 2nd anniversary with the same man you&#39;re dating today, miss.&#34; Kalimat tersebut dihadiakan sebuah tepukan sebal di lengan Dhani.&#xA;p&#xA;p&#xA;p&#xA;---&#xA;p&#xA;p&#xA;p&#xA;&#xA;Memasuki Wings, Jeanne dan Dhanni langsung diarahkan menuju meja yang sudah dipesan oleh Jo, tentu dia akan membuka satu ruangan tidak hanya meja. Karena Sean malam ini tampil di Wings dan itu mejadi akses utama untuk mendapat ruangan dibelakang meja Disk Jockey.&#xA;&#xA;&#34;Ih ada cewek cantik, Jo! Ajak kenalan woy!&#34; Satria tidak berhenti menyikut Jo yang sedari tadi sangat sibuk dengan ponselnya. Si cantik hanya tersenyum geli dan duduk dengan sembarangan, meletakkan ponselnya yang baru saja ia gunakan untuk mengabari Grettha bahwa ia ada di ruangan tersebut. &#xA;&#xA;&#34;Ck. Mana ada si cewe lebih cantik dari Jeje.&#34;&#xA;&#xA;Tawa satria meledak, diikuti kekehan Dhani yang tidak habis pikir dengan kelakuan Jo. Jika boleh jujur, kelakuan Jo selama ini selalu berbanding terbalik dengan apa yang dia ucapkan. Dimana waktu itu dia memutuskan menyudahi hubungannya dengan Jeanne hanya karena ia menemukan mainan baru dan terlalu larut dengan mainannya, menyia-nyiakan Jeanne yang terlalu sering memaklumi Ardiano Johan dan segala kelakuannya.&#xA;&#xA;&#34;Tapi boleh kan kalo cuma kenalan aja?&#34; Goda Jeanne kali ini dengan mengulurkan tangannya kedepan lutut Jo yang sedang terlipat diatas kakinya sendiri.&#xA;&#xA;Dengan gerakan yang sangat impulsif, Jo menyambut tangan wanita itu. Sesaat setelah ia berhasil mengalihkan pandangannya dari ponsel hitam itu.&#xA;&#xA;&#34;Ard-&#34; Kalimatnya terputus dan ledakan tawa di ruangan tersebut sudah diluar kendali. Bahkan Jeanne sudah melempar tangan si pria yang sekarang mulutnya terbuka lebar, ia tidak kuat menahan sakitnya perut karena tertawa terlalu keras.&#xA;&#xA;&#34;Siapa lo mau bilang? Ardiano? Sok ganteng!&#34;&#xA;&#xA;Pria dengan nama lengkap Ardiano Johan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tentunya tidak gatal. Salting, tepatnya.&#xA;&#xA;&#34;Bangsat. Lo demen banget sih godain gue!&#34; Sebuah kepalan tangan mendarat sempurna di paha Satria yang masih sibuk memukul sofa karena tertawa.&#xA;&#xA;&#34;Kelakuan lo masih begini nih? Udah lewat setahun, bahkan gue udah punya cowok, Jo. Lo kapan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kapan punya cowo juga? Nggak. Makanya, dong. Lo kapan putus sama Jay, gue nungguin udah mau keriput nih Je!&#34;&#xA;&#xA;Satria dengan santai menepuk dahi si tukang ngalus satu ini dan mendorongnya untuk kembali menyandarkan badannya di sofa saja, tidak perlu sampai maju seperti sekarang. Maklum, terlalu heboh kalau sudah menyangkut Jeanne.&#xA;&#xA;&#34;Mulut lo belom pernah sekolah?&#34; &#xA;&#xA;Bersamaan dengan itu, dua wanita cantik mendorong pintu kaca tersebut agar terbuka lebar dan tersenyum. Jeanne langsung mengangkat kedua tangannya dan berteriak senang.&#xA;&#xA;&#34;Grettha ku sayaaang!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hai babe! Nih kenalin, temen gue Nina. Dia dulu temen SD gue sebenernya, kita baru ketemu lagi 3 bulan lalu lah. Baru akhirnya stay di Jakarta untuk jangka panjang lagi.&#34; Ujar Grettha panjang lebar dan akhirnya berbalik ke arah wanita yang tadi dipanggil Nina.&#xA;&#xA;&#34;Nina kenalin, yang ini Jo, Satria, Jeanne dan Dhani.&#34;&#xA;&#xA;Dengan girang Nina mengulurkan tangannya ke setiap orang dengan menyebut namanya sebanyak empat kali. &#xA;&#xA;&#34;Kalo lo mau, boleh ni ambil dua cecunguk ini. Udah kelamaan jomblo ini anak berdua gue udah bosen banget liatnya.&#34; Tawa renyah Nina terdengar. Satria hanya terdiam dan memperhatikan dengan seksama.&#xA;&#xA;&#34;Nggak lah, gue juga masih proses memperbaiki diri kali! Nanti kalo udah siap gue kabarin deeeh.&#34; canda wanita yang ternyata memilki sebuah tahilalat di lengan kirinya. Tanda itu tereskpose saat Nina menyisir rambutnya yang akhirnya dia gulung keatas agar tidak merepotkan.&#xA;&#xA;&#34;Iya, kabarin ya Nin. Gue tunggu lho. Nomor hp lo berapa?&#34;&#xA;&#xA;Kelima pasang mata langsung mengalihkan pandangan mereka ke suara yang baru saja tergesa-gesa mengeluarkan ponselnya yang sudah tentu saja di unlock untuk memudahkan si gadis menekan 12 dijit nomor ponsel yang ia miliki. Tawa kembali pecah dalam ruangan itu. &#xA;&#xA;&#34;Sat, pelan pelan anjir. Lo pikir dia siapa lo main minta aja nomornya?&#34; Ucap Jo ditengah-tengah tawanya.&#xA;&#xA;&#34;Lha, kalo temen nya Grettha mah temen gue juga lah!&#34; &#xA;&#xA;Sebuah gulungan tissue kecil melayang ke arah Satria yang berhasil dengan mudah ia tepis.&#34;Apaan sih lo, Je?&#34;&#xA;&#xA;Ponsel yang masih terjulur ditangan Satria menggantung di udara meminta Nina untuk memberitahu nomor ponselnya segera di terima olehnya. Dengan senyum yang terkulum, Nina menekan 12 dijit nomornya di layar dan menekan tombol hijau. Suara dering ponsel terdengan sayup-sayup dari dalam tas seseorang. Di dering ke 3, Nina menekan tombol merah dan mengembalikan ponsel tersebut kepada si empunya.&#xA;&#xA;Yang dengan sigap diterima oleh Satria, ia beralih ke pria yang berada di samping kirinya. &#34;Gitu caranya dapet gebetan, Ardiano Johan. Ga, boleh, cupaps!&#34;&#xA;&#xA;Keempat orang yang menyaksikan hanya bisa terkekeh sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dua orang sahabat yang sudah bersama sejak, mungkin saat ruh mereka baru akan di tiupkan ke janin ibu mereka. &#xA;p&#xA;p&#xA;p&#xA;---&#xA;p&#xA;p&#xA;p&#xA;Malam semakin larut, Sean sudah memainkan lagu ketiganya dan dalam ruangan tadi sudah tergeletak 4 botol yang terbuka. Jeanne dan Grettha sudah memasuki gelas ke 3 mereka. Nina yang sedari tadi hanya meminum soda hanya sibuk memainkan alat gawai nya. Ia berjanji pada Grettha untuk membawanya pulang, agar tidak habis dimarahi oleh Ibu. &#xA;&#xA;Nina dengan sigap meletakkan gelas yang selama ini ia genggam di atas meja dan sangat fokus dengan alat gawai yang ia pegang karena sebuah pesan langsung yang masuk di akun twitter keduanya. Jantungnya berdegup kencang, tidak disangka sebuah foto dalam post nya memancing pria yang selama ini mendekam di hati nya, pria yang sama yang mengabaikannya satu tahun terakhir, akhirnya mengirimkan pesan kepadanya.&#xA;&#xA;Namun tak lama, sebuah ekspresi kecewa terukir di wajah wanita tersebut dan membanting alat tersebut kedalam tasnya. &#xA;&#xA;&#34;Gre, Grettha! Balik yuk, udah mau jam 2.&#34;&#xA;&#xA;Yang dipanggil menoleh lemah dan tersenyum. Anggukan kecil diberikan oleh Grettha dan menarik Jeanne bersamanya.&#xA;&#xA;&#34;AYO PULANG. GUE BUTUH APARTMENT LO.&#34; &#xA;Dengan ganas Grettha meneriakkan kalimat tersebut ke telinga Jeanne yang dihadiahkan sebuah telapak tangan di dahinya. &#xA;&#xA;&#34;Gue cuma tipsy, bukan tuli!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ninaaaaaa, lo bisa bawa mobil kan?&#34; tanya Jeanne sambil merapi kan tasnya dan jaket yang ia sampirkan di lengan sofa sejak tadi.&#xA;&#xA;&#34;Iya, tapi gue butuh alamat lo yaa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ada ada di hp gue, nih lo aja yang pegang.&#34;&#xA;Nina menerima ponsel Jeanne dengan sigap karena si empunya hanya memiliki 20% tenaga tersisa. Ponsel tersebut bergetar dua kali dan membuat layar nya menyala. Nina tidak tahu jika semesta bisa sejahat ini, dengan dirinya.&#xA;p&#xA;p&#xA;p&#xA;---&#xA;p&#xA;p&#xA;p&#xA;©noircu&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>O15. Wings</strong>
<p>
<p></p>

<hr/>

<p>Udara malam ini cukup cerah, terlihat Venus dan beberapa bintang lain disekitar si bulan yang masih mengintip malu. Jeanne merapihkan barang-barang yang daritadi dia keluarkan sambil bersenda gurau dengan Dhani sepanjang perjalan ke Wings.</p>

<p>Ajakan Jo yang di iya kan oleh wanita berambut panjang ini tidak memiliki alasan khusus. Sudah hampir seminggu lebih dia hanya menginjakkan kaki nya di Voyage, toko bunga, dan tempat tinggalnya. Sungguh penat rasanya kepala Jeanne sepanjang minggu ini.</p>

<p>Firasatnya tidak pernah salah, Jeanne hari ini benar-benar mengenakan pakaian yang baru dikirimkan oleh Helena beberapa hari lalu. <em>Endorse</em> yang kegedean, katanya. Perawakan Helena jauh lebih mungil dibanding Jeanne, Grettha dan Elle dimana tinggi ketiganya hampir menyentuh angka 170. Orang-Orang lebih sering mengira adik Keina adalah Helena, bukan Jeanne. Jeanne terkikik pelan membayangkan dia benar-benar makan dengan Jay dan siaran dengan sweatpants dan kaos oblong. Mungkin dia akan lebih memilih untuk dijemput Jay, tadi.</p>

<p><em>“Woy. Bengong sih cuy? Dua menit ya gue liatin lo ngerapihin barang tapi bengong abis itu ketawa sendiri? Kesurupan lo?”</em> Tubuh si wanita terhuyung pelan sesaat setelah pundaknya mendapat tepukan yang lumayan keras dari Dhani.</p>

<p><em>“Si kampret. Lo tuh, sama cewe alus dikit kek. Jihan betah ya sama lo macem gini?”</em> Mata Dhani menyipit ketika ia tertawa dan giginya yang lucu terpampang jelas saat ini.</p>

<p><em>“Ngga ada urusan. Gue ama Jihan mah aluuuuuuus. Makanya langgeng kan? Nggak kaya lo!”</em></p>

<p>Jeanne bergerak turun dan menutup pintu mobil dengan dorongan yang cukup. Merapihkan bajunya sesaat dan menyampirkan tasnya di bahu, ia berjalan mengitari Audi putih itu karena pintu masuk Wings ada di sebelah kanannya.</p>

<p><em>“Gausah sok superior! Gue sama Jay juga udah mau satu semester!”</em> Lidah Jeanne terjulur meledek si pria berwajah bulat itu.</p>

<p><em>“Comeback when you celebrate your 2nd anniversary with the same man you&#39;re dating today, miss.”</em> Kalimat tersebut dihadiakan sebuah tepukan sebal di lengan Dhani.
<p>
<p>
<p></p>

<hr/>

<p><p>
<p>
<p></p>

<p>Memasuki Wings, Jeanne dan Dhanni langsung diarahkan menuju meja yang sudah dipesan oleh Jo, tentu dia akan membuka satu ruangan tidak hanya meja. Karena Sean malam ini tampil di Wings dan itu mejadi akses utama untuk mendapat ruangan dibelakang meja <em>Disk Jockey</em>.</p>

<p><em>“Ih ada cewek cantik, Jo! Ajak kenalan woy!”</em> Satria tidak berhenti menyikut Jo yang sedari tadi sangat sibuk dengan ponselnya. Si cantik hanya tersenyum geli dan duduk dengan sembarangan, meletakkan ponselnya yang baru saja ia gunakan untuk mengabari Grettha bahwa ia ada di ruangan tersebut.</p>

<p><em>“Ck. Mana ada si cewe lebih cantik dari Jeje.”</em></p>

<p>Tawa satria meledak, diikuti kekehan Dhani yang tidak habis pikir dengan kelakuan Jo. Jika boleh jujur, kelakuan Jo selama ini selalu berbanding terbalik dengan apa yang dia ucapkan. Dimana waktu itu dia memutuskan menyudahi hubungannya dengan Jeanne hanya karena ia menemukan mainan baru dan terlalu larut dengan mainannya, menyia-nyiakan Jeanne yang terlalu sering memaklumi Ardiano Johan dan segala kelakuannya.</p>

<p><em>“Tapi boleh kan kalo cuma kenalan aja?”</em> Goda Jeanne kali ini dengan mengulurkan tangannya kedepan lutut Jo yang sedang terlipat diatas kakinya sendiri.</p>

<p>Dengan gerakan yang sangat impulsif, Jo menyambut tangan wanita itu. Sesaat setelah ia berhasil mengalihkan pandangannya dari ponsel hitam itu.</p>

<p><em>“Ard-”</em> Kalimatnya terputus dan ledakan tawa di ruangan tersebut sudah diluar kendali. Bahkan Jeanne sudah melempar tangan si pria yang sekarang mulutnya terbuka lebar, ia tidak kuat menahan sakitnya perut karena tertawa terlalu keras.</p>

<p><em>“Siapa lo mau bilang? Ardiano? Sok ganteng!”</em></p>

<p>Pria dengan nama lengkap Ardiano Johan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tentunya tidak gatal. Salting, tepatnya.</p>

<p><em>“Bangsat. Lo demen banget sih godain gue!”</em> Sebuah kepalan tangan mendarat sempurna di paha Satria yang masih sibuk memukul sofa karena tertawa.</p>

<p><em>“Kelakuan lo masih begini nih? Udah lewat setahun, bahkan gue udah punya cowok, Jo. Lo kapan?”</em></p>

<p><em>“Kapan punya cowo juga? Nggak. Makanya, dong. Lo kapan putus sama Jay, gue nungguin udah mau keriput nih Je!”</em></p>

<p>Satria dengan santai menepuk dahi si tukang ngalus satu ini dan mendorongnya untuk kembali menyandarkan badannya di sofa saja, tidak perlu sampai maju seperti sekarang. Maklum, terlalu heboh kalau sudah menyangkut Jeanne.</p>

<p><em>“Mulut lo belom pernah sekolah?”</em></p>

<p>Bersamaan dengan itu, dua wanita cantik mendorong pintu kaca tersebut agar terbuka lebar dan tersenyum. Jeanne langsung mengangkat kedua tangannya dan berteriak senang.</p>

<p><em>“Grettha ku sayaaang!”</em></p>

<p><em>“Hai babe! Nih kenalin, temen gue Nina. Dia dulu temen SD gue sebenernya, kita baru ketemu lagi 3 bulan lalu lah. Baru akhirnya stay di Jakarta untuk jangka panjang lagi.”</em> Ujar Grettha panjang lebar dan akhirnya berbalik ke arah wanita yang tadi dipanggil Nina.</p>

<p><em>“Nina kenalin, yang ini Jo, Satria, Jeanne dan Dhani.”</em></p>

<p>Dengan girang Nina mengulurkan tangannya ke setiap orang dengan menyebut namanya sebanyak empat kali.</p>

<p><em>“Kalo lo mau, boleh ni ambil dua cecunguk ini. Udah kelamaan jomblo ini anak berdua gue udah bosen banget liatnya.”</em> Tawa renyah Nina terdengar. Satria hanya terdiam dan memperhatikan dengan seksama.</p>

<p><em>“Nggak lah, gue juga masih proses memperbaiki diri kali! Nanti kalo udah siap gue kabarin deeeh.”</em> canda wanita yang ternyata memilki sebuah tahilalat di lengan kirinya. Tanda itu tereskpose saat Nina menyisir rambutnya yang akhirnya dia gulung keatas agar tidak merepotkan.</p>

<p><em>“Iya, kabarin ya Nin. Gue tunggu lho. Nomor hp lo berapa?”</em></p>

<p>Kelima pasang mata langsung mengalihkan pandangan mereka ke suara yang baru saja tergesa-gesa mengeluarkan ponselnya yang sudah tentu saja di <em>unlock</em> untuk memudahkan si gadis menekan 12 dijit nomor ponsel yang ia miliki. Tawa kembali pecah dalam ruangan itu.</p>

<p><em>“Sat, pelan pelan anjir. Lo pikir dia siapa lo main minta aja nomornya?”</em> Ucap Jo ditengah-tengah tawanya.</p>

<p><em>“Lha, kalo temen nya Grettha mah temen gue juga lah!”</em></p>

<p>Sebuah gulungan tissue kecil melayang ke arah Satria yang berhasil dengan mudah ia tepis.<em>“Apaan sih lo, Je?”</em></p>

<p>Ponsel yang masih terjulur ditangan Satria menggantung di udara meminta Nina untuk memberitahu nomor ponselnya segera di terima olehnya. Dengan senyum yang terkulum, Nina menekan 12 dijit nomornya di layar dan menekan tombol hijau. Suara dering ponsel terdengan sayup-sayup dari dalam tas seseorang. Di dering ke 3, Nina menekan tombol merah dan mengembalikan ponsel tersebut kepada si empunya.</p>

<p>Yang dengan sigap diterima oleh Satria, ia beralih ke pria yang berada di samping kirinya. <em>“Gitu caranya dapet gebetan, Ardiano Johan. Ga, boleh, cupaps!”</em></p>

<p>Keempat orang yang menyaksikan hanya bisa terkekeh sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dua orang sahabat yang sudah bersama sejak, mungkin saat ruh mereka baru akan di tiupkan ke janin ibu mereka.
<p>
<p>
<p></p>

<hr/>

<p><p>
<p>
<p>
Malam semakin larut, Sean sudah memainkan lagu ketiganya dan dalam ruangan tadi sudah tergeletak 4 botol yang terbuka. Jeanne dan Grettha sudah memasuki gelas ke 3 mereka. Nina yang sedari tadi hanya meminum soda hanya sibuk memainkan alat gawai nya. Ia berjanji pada Grettha untuk membawanya pulang, agar tidak habis dimarahi oleh Ibu.</p>

<p>Nina dengan sigap meletakkan gelas yang selama ini ia genggam di atas meja dan sangat fokus dengan alat gawai yang ia pegang karena sebuah pesan langsung yang masuk di akun twitter keduanya. Jantungnya berdegup kencang, tidak disangka sebuah foto dalam post nya memancing pria yang selama ini mendekam di hati nya, pria yang sama yang mengabaikannya satu tahun terakhir, akhirnya mengirimkan pesan kepadanya.</p>

<p>Namun tak lama, sebuah ekspresi kecewa terukir di wajah wanita tersebut dan membanting alat tersebut kedalam tasnya.</p>

<p><em>“Gre, Grettha! Balik yuk, udah mau jam 2.”</em></p>

<p>Yang dipanggil menoleh lemah dan tersenyum. Anggukan kecil diberikan oleh Grettha dan menarik Jeanne bersamanya.</p>

<p><em>“AYO PULANG. GUE BUTUH APARTMENT LO.”</em>
Dengan ganas Grettha meneriakkan kalimat tersebut ke telinga Jeanne yang dihadiahkan sebuah telapak tangan di dahinya.</p>

<p><em>“Gue cuma tipsy, bukan tuli!”</em></p>

<p><em>“Ninaaaaaa, lo bisa bawa mobil kan?”</em> tanya Jeanne sambil merapi kan tasnya dan jaket yang ia sampirkan di lengan sofa sejak tadi.</p>

<p><em>“Iya, tapi gue butuh alamat lo yaa.”</em></p>

<p><em>“Ada ada di hp gue, nih lo aja yang pegang.”</em>
Nina menerima ponsel Jeanne dengan sigap karena si empunya hanya memiliki 20% tenaga tersisa. Ponsel tersebut bergetar dua kali dan membuat layar nya menyala. Nina tidak tahu jika semesta bisa sejahat ini, dengan dirinya.
<p>
<p>
<p></p>

<hr/>

<p><p>
<p>
<p>
©noircu</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://mydeartears.writeas.com/o11</guid>
      <pubDate>Tue, 08 Sep 2020 03:46:12 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>O7. Sate Padang dan Bena</title>
      <link>https://mydeartears.writeas.com/o6?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[O7. Sate Padang dan Bena&#xA;p&#xA;p&#xA;p&#xA;p&#xA;&#34;Udah?&#34;&#xA;Jeanne hanya mengangguk lesu kemudian meminum air mineral dari tumblr yang dia bawa, tidak pernah lupa. Katanya, kita harus sayang bumi!&#xA;p&#xA;p&#xA;Dengan senyum yang tersungging kecil di bibir Jay, tangannya terulur untuk mengelus pipi kekasihnya sebelum akhirnya ia bangkit untuk membayar dua porsi sate padang yang sudah berpindah ke perutnya dan Jeanne. Ditambah satu bungkus kerupuk kulit yang setengahnya dilemparkan Jeanne ke Jay karena kesal. Sesungguhnya Jeanne sudah berharap untuk diajak makan sate di daerah Kebayoran. Karena dekat Studio Voyage, tempat siaran radio-nya. Dan itu juga sate favorite Jeanne se-Jakarta. Sungguh, Jeanne memang sesuka itu dengan sate.&#xA;p&#xA;p&#xA;Jeanne berjalan mengekor kekasihnya ke tempat Jay memarkirkan mobilnya tadi. Sesaat setelah lampu mobil tersebut berkedip, Jeanne membuka pintu dan duduk di kursi penumpang sebelah pengemudi dengan bibir yang dimajukan seper sekian senti.&#xA;p&#xA;p&#xA;&#34;Masih ngambek nih ceritanya?&#34; tanya Jay saat ia memasang sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobil.&#xA;p&#xA;p&#xA;&#34;Sedikit.&#34;&#xA;p&#xA;p&#xA;&#34;Besok kamu siaran jam berapa?&#34;&#xA;p&#xA;p&#xA;&#34;Jam 2. Sama Dhani.&#34;&#xA;p&#xA;p&#xA;p&#xA;Jeanne mengamati bagaimana Jay dengan cekatan mengendalikan stir mobil untuk mundur, menekan tombol yang menurunkan kaca dan memberi uang pada bapak tua yang membantu memarkirkan mobil agar tidak terhambat dan menabrak mobil lain dalam satu menit penuh. Jeanne selalu suka melihat bagaimana Jay sangat terlihat gagah saat melakukannya. Terkadang Jay melajukan mobilnya juga dengan gerakan yang lihai walau dalam sebuah percakapan yang cukup intense.&#xA;p&#xA;p&#xA;p&#xA;&#34;Yaudah besok aku jemput terus kita makan di Sate Mang Udjo deh ya?&#34;&#xA;p&#xA;p&#xA;&#34;Besok jumat loh? Biasanya kafe rame banget pasti!&#34;&#xA;p&#xA;p&#xA;&#34;Ya buat apa aku ngehire anak buah kalo aku mulu yang handle? Kayaknya aku juga bakal cari manager untuk Oakwood. Aku mungkin mau buka di toko baru di daerah Radio Dalam.&#34; Jay melirik sambil menaikkan sebelah alisnya, niatnya menggona Jeanne. Diluar dugaan, dia hanya mendapatkan sebuah dengusan kesal. &#34;Lo kira lo oke?&#34;&#xA;p&#xA;p&#xA;&#34;Tapi serius? Kayaknya di Oakwood juga baru dua tahunan ga sih? Kalo aku ga salah inget dari cerita kamu sih ya.&#34; sambung Jeanne.&#xA;p&#xA;p&#xA;&#34;Ya gapapa. Maksudku, di Oakwood kan kelas perkantoran. Menurutku Truely nggak akan mati di sana. Selalu akan ada manusia-manusia yang akan mati stress tanpa kopi dan rokok. Tapi, belum tentu juga bener di Radio Dalam. Aku masih cari beberapa spot lain juga.&#34;&#xA;p&#xA;p&#xA;Jay berbelok ke arah Senopati, dan berhenti di depan ruko 4 tingkat sejajaran Pasar Santa. Sebuah tempat yang terlihat tidak menarik, padahal dibalik pintu kaca dengan ukiran kayu sebagai aksennya ada beribu tawa dan keseruan yang tersimpan rapat. Jay menarik rem tangannya dan menyamankan diri menghadap kekasihnya di sebelah kiri.&#xA;p&#xA;p&#xA;&#34;Mau aku temenin cari spot nya?&#34; sebuah tawaran yang jarang dikeluarkan oleh Jeanne karena dia cukup sibuk, sebagai penyiar pada hari kerja dan florist pada akhir pekan. Sebenarnya florist bukan pekerjaan yang ingin Jeanne tekuni. Tapi ia sangat menikmati saat-saat merangkai berbagai jenis bunga dan di gabungkan dalam satu pot atau bucket. &#xA;p&#xA;p&#xA;&#34;Boleh. Tapi jawab satu pertanyaanku dulu.&#34;&#xA;p&#xA;p&#xA;&#34;hm?&#34;&#xA;p&#xA;p&#xA;&#34;Bena masih suka ajak kamu keluar?&#34;&#xA;p&#xA;p&#xA;&#34;Sering lah. Bena kan temanku. Dia juga suka main ke Voyage kok!&#34;&#xA;Tanpa disadari, Jay memutar bola matanya kesal. Si Bena Bena ini nggak takut gue habisin apa ya?, pikirnya.&#xA;p&#xA;p&#xA;&#34;Kenapa? Kamu masih cemburu sama Bena?&#34;&#xA;p&#xA;p&#xA;&#34;Iya lah, Je. Cowok mana yang nggak kesel ceweknya diajak jalan mulu sama cowok lain?&#34; Suara Jay mulai meninggi tanpa ia sadari.&#xA;p&#xA;p&#xA;&#34;Jay.&#34; panggil Jeanne. Hanya dibalas lirikan oleh si empunya nama.&#xA;p&#xA;p&#xA;&#34;Kamu nggak capek tiap bulan, ada kali 3x kamu bahas kecemburuan kamu soal Bena dan 3x juga aku jelasin ke kamu aku gak mungkin suka sama Bena karena Bena itu gay!&#34;&#xA;p&#xA;p&#xA;Si pria hanya membalas dengan dengusan kesal. &#34;Jeanne, gue gak bego. Bena tuh nggak Gay.&#34;&#xA;p&#xA;p&#xA;&#34;Ih. Orang dia selalu bawa Hansel kalo dia mampir ke Voyage. Udah ah, udah waktunya aku siap siap siaran. Jangan lupa, stay tune on my Bon Voyage at Truely, okay? Love you.&#34;&#xA;p&#xA;p&#xA;Sebuah kecupan singkat di pipi Jay berhasil dicuri oleh sang kekasih yang kemudian bersemu malu dan buru-buru turun untuk memasuki pintu kaca yang sedari tadi menonton mereka berdua berdebat didalam mobil. Sebelum benar-benar membuka pintu dengan lebar, Jeanne melambaikan tangannya dan tersenyum ke arah mobil berkaca gelap di depannya. Sebuah senyuman hangat terukir di bibir pria bermata sipit itu.&#xA;p&#xA;p&#xA;p&#xA;p&#xA;©noircu]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>O7. Sate Padang dan Bena</strong>
<p>
<p>
<p>
<p>
<em>“Udah?”</em>
Jeanne hanya mengangguk lesu kemudian meminum air mineral dari tumblr yang dia bawa, tidak pernah lupa. Katanya, <em>kita harus sayang bumi!</em>
<p>
<p>
Dengan senyum yang tersungging kecil di bibir Jay, tangannya terulur untuk mengelus pipi kekasihnya sebelum akhirnya ia bangkit untuk membayar dua porsi sate padang yang sudah berpindah ke perutnya dan Jeanne. Ditambah satu bungkus kerupuk kulit yang setengahnya dilemparkan Jeanne ke Jay karena kesal. Sesungguhnya Jeanne sudah berharap untuk diajak makan sate di daerah Kebayoran. Karena dekat <em>Studio Voyage</em>, tempat siaran radio-nya. Dan itu juga sate favorite Jeanne se-Jakarta. Sungguh, Jeanne memang sesuka itu dengan sate.
<p>
<p>
Jeanne berjalan mengekor kekasihnya ke tempat Jay memarkirkan mobilnya tadi. Sesaat setelah lampu mobil tersebut berkedip, Jeanne membuka pintu dan duduk di kursi penumpang sebelah pengemudi dengan bibir yang dimajukan seper sekian senti.
<p>
<p>
<em>“Masih ngambek nih ceritanya?”</em> tanya Jay saat ia memasang sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobil.
<p>
<p>
<em>“Sedikit.”</em>
<p>
<p>
<em>“Besok kamu siaran jam berapa?”</em>
<p>
<p>
<em>“Jam 2. Sama Dhani.”</em>
<p>
<p>
<p>
Jeanne mengamati bagaimana Jay dengan cekatan mengendalikan stir mobil untuk mundur, menekan tombol yang menurunkan kaca dan memberi uang pada bapak tua yang membantu memarkirkan mobil agar tidak terhambat dan menabrak mobil lain dalam satu menit penuh. Jeanne selalu suka melihat bagaimana Jay sangat terlihat gagah saat melakukannya. Terkadang Jay melajukan mobilnya juga dengan gerakan yang lihai walau dalam sebuah percakapan yang cukup intense.
<p>
<p>
<p>
<em>“Yaudah besok aku jemput terus kita makan di Sate Mang Udjo deh ya?”</em>
<p>
<p>
<em>“Besok jumat loh? Biasanya kafe rame banget pasti!”</em>
<p>
<p>
<em>“Ya buat apa aku ngehire anak buah kalo aku mulu yang handle? Kayaknya aku juga bakal cari manager untuk Oakwood. Aku mungkin mau buka di toko baru di daerah Radio Dalam.”</em> Jay melirik sambil menaikkan sebelah alisnya, niatnya menggona Jeanne. Diluar dugaan, dia hanya mendapatkan sebuah dengusan kesal. <em>“Lo kira lo oke?”</em>
<p>
<p>
<em>“Tapi serius? Kayaknya di Oakwood juga baru dua tahunan ga sih? Kalo aku ga salah inget dari cerita kamu sih ya.”</em> sambung Jeanne.
<p>
<p>
<em>“Ya gapapa. Maksudku, di Oakwood kan kelas perkantoran. Menurutku</em> Truely <em>nggak akan mati di sana. Selalu akan ada manusia-manusia yang akan mati stress tanpa kopi dan rokok. Tapi, belum tentu juga bener di Radio Dalam. Aku masih cari beberapa spot lain juga.”</em>
<p>
<p>
Jay berbelok ke arah Senopati, dan berhenti di depan ruko 4 tingkat sejajaran Pasar Santa. Sebuah tempat yang terlihat tidak menarik, padahal dibalik pintu kaca dengan ukiran kayu sebagai aksennya ada beribu tawa dan keseruan yang tersimpan rapat. Jay menarik rem tangannya dan menyamankan diri menghadap kekasihnya di sebelah kiri.
<p>
<p>
<em>“Mau aku temenin cari spot nya?”</em> sebuah tawaran yang jarang dikeluarkan oleh Jeanne karena dia cukup sibuk, sebagai penyiar pada hari kerja dan <em>florist</em> pada akhir pekan. Sebenarnya <em>florist</em> bukan pekerjaan yang ingin Jeanne tekuni. Tapi ia sangat menikmati saat-saat merangkai berbagai jenis bunga dan di gabungkan dalam satu pot atau <em>bucket</em>.
<p>
<p>
<em>“Boleh. Tapi jawab satu pertanyaanku dulu.”</em>
<p>
<p>
<em>“hm?”</em>
<p>
<p>
<em>“Bena masih suka ajak kamu keluar?”</em>
<p>
<p>
<em>“Sering lah. Bena kan temanku. Dia juga suka main ke Voyage kok!”</em>
Tanpa disadari, Jay memutar bola matanya kesal. <em>Si Bena Bena ini nggak takut gue habisin apa ya?</em>, pikirnya.
<p>
<p>
<em>“Kenapa? Kamu masih cemburu sama Bena?”</em>
<p>
<p>
<em>“Iya lah, Je. Cowok mana yang nggak kesel ceweknya diajak jalan mulu sama cowok lain?”</em> Suara Jay mulai meninggi tanpa ia sadari.
<p>
<p>
<em>“Jay.”</em> panggil Jeanne. Hanya dibalas lirikan oleh si empunya nama.
<p>
<p>
<em>“Kamu nggak capek tiap bulan, ada kali 3x kamu bahas kecemburuan kamu soal Bena dan 3x juga aku jelasin ke kamu aku gak mungkin suka sama Bena karena Bena itu gay!”</em>
<p>
<p>
Si pria hanya membalas dengan dengusan kesal. <em>“Jeanne, gue gak bego. Bena tuh nggak Gay.”</em>
<p>
<p>
<em>“Ih. Orang dia selalu bawa Hansel kalo dia mampir ke Voyage. Udah ah, udah waktunya aku siap siap siaran. Jangan lupa,</em> stay tune on my <strong>Bon Voyage</strong> at Truely, okay? Love you.”
<p>
<p>
Sebuah kecupan singkat di pipi Jay berhasil dicuri oleh sang kekasih yang kemudian bersemu malu dan buru-buru turun untuk memasuki pintu kaca yang sedari tadi menonton mereka berdua berdebat didalam mobil. Sebelum benar-benar membuka pintu dengan lebar, Jeanne melambaikan tangannya dan tersenyum ke arah mobil berkaca gelap di depannya. Sebuah senyuman hangat terukir di bibir pria bermata sipit itu.
<p>
<p>
<p>
<p>
©noircu</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://mydeartears.writeas.com/o6</guid>
      <pubDate>Tue, 08 Sep 2020 00:55:14 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>