O15. Wings


Udara malam ini cukup cerah, terlihat Venus dan beberapa bintang lain disekitar si bulan yang masih mengintip malu. Jeanne merapihkan barang-barang yang daritadi dia keluarkan sambil bersenda gurau dengan Dhani sepanjang perjalan ke Wings.

Ajakan Jo yang di iya kan oleh wanita berambut panjang ini tidak memiliki alasan khusus. Sudah hampir seminggu lebih dia hanya menginjakkan kaki nya di Voyage, toko bunga, dan tempat tinggalnya. Sungguh penat rasanya kepala Jeanne sepanjang minggu ini.

Firasatnya tidak pernah salah, Jeanne hari ini benar-benar mengenakan pakaian yang baru dikirimkan oleh Helena beberapa hari lalu. Endorse yang kegedean, katanya. Perawakan Helena jauh lebih mungil dibanding Jeanne, Grettha dan Elle dimana tinggi ketiganya hampir menyentuh angka 170. Orang-Orang lebih sering mengira adik Keina adalah Helena, bukan Jeanne. Jeanne terkikik pelan membayangkan dia benar-benar makan dengan Jay dan siaran dengan sweatpants dan kaos oblong. Mungkin dia akan lebih memilih untuk dijemput Jay, tadi.

“Woy. Bengong sih cuy? Dua menit ya gue liatin lo ngerapihin barang tapi bengong abis itu ketawa sendiri? Kesurupan lo?” Tubuh si wanita terhuyung pelan sesaat setelah pundaknya mendapat tepukan yang lumayan keras dari Dhani.

“Si kampret. Lo tuh, sama cewe alus dikit kek. Jihan betah ya sama lo macem gini?” Mata Dhani menyipit ketika ia tertawa dan giginya yang lucu terpampang jelas saat ini.

“Ngga ada urusan. Gue ama Jihan mah aluuuuuuus. Makanya langgeng kan? Nggak kaya lo!”

Jeanne bergerak turun dan menutup pintu mobil dengan dorongan yang cukup. Merapihkan bajunya sesaat dan menyampirkan tasnya di bahu, ia berjalan mengitari Audi putih itu karena pintu masuk Wings ada di sebelah kanannya.

“Gausah sok superior! Gue sama Jay juga udah mau satu semester!” Lidah Jeanne terjulur meledek si pria berwajah bulat itu.

“Comeback when you celebrate your 2nd anniversary with the same man you're dating today, miss.” Kalimat tersebut dihadiakan sebuah tepukan sebal di lengan Dhani.


Memasuki Wings, Jeanne dan Dhanni langsung diarahkan menuju meja yang sudah dipesan oleh Jo, tentu dia akan membuka satu ruangan tidak hanya meja. Karena Sean malam ini tampil di Wings dan itu mejadi akses utama untuk mendapat ruangan dibelakang meja Disk Jockey.

“Ih ada cewek cantik, Jo! Ajak kenalan woy!” Satria tidak berhenti menyikut Jo yang sedari tadi sangat sibuk dengan ponselnya. Si cantik hanya tersenyum geli dan duduk dengan sembarangan, meletakkan ponselnya yang baru saja ia gunakan untuk mengabari Grettha bahwa ia ada di ruangan tersebut.

“Ck. Mana ada si cewe lebih cantik dari Jeje.”

Tawa satria meledak, diikuti kekehan Dhani yang tidak habis pikir dengan kelakuan Jo. Jika boleh jujur, kelakuan Jo selama ini selalu berbanding terbalik dengan apa yang dia ucapkan. Dimana waktu itu dia memutuskan menyudahi hubungannya dengan Jeanne hanya karena ia menemukan mainan baru dan terlalu larut dengan mainannya, menyia-nyiakan Jeanne yang terlalu sering memaklumi Ardiano Johan dan segala kelakuannya.

“Tapi boleh kan kalo cuma kenalan aja?” Goda Jeanne kali ini dengan mengulurkan tangannya kedepan lutut Jo yang sedang terlipat diatas kakinya sendiri.

Dengan gerakan yang sangat impulsif, Jo menyambut tangan wanita itu. Sesaat setelah ia berhasil mengalihkan pandangannya dari ponsel hitam itu.

“Ard-” Kalimatnya terputus dan ledakan tawa di ruangan tersebut sudah diluar kendali. Bahkan Jeanne sudah melempar tangan si pria yang sekarang mulutnya terbuka lebar, ia tidak kuat menahan sakitnya perut karena tertawa terlalu keras.

“Siapa lo mau bilang? Ardiano? Sok ganteng!”

Pria dengan nama lengkap Ardiano Johan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tentunya tidak gatal. Salting, tepatnya.

“Bangsat. Lo demen banget sih godain gue!” Sebuah kepalan tangan mendarat sempurna di paha Satria yang masih sibuk memukul sofa karena tertawa.

“Kelakuan lo masih begini nih? Udah lewat setahun, bahkan gue udah punya cowok, Jo. Lo kapan?”

“Kapan punya cowo juga? Nggak. Makanya, dong. Lo kapan putus sama Jay, gue nungguin udah mau keriput nih Je!”

Satria dengan santai menepuk dahi si tukang ngalus satu ini dan mendorongnya untuk kembali menyandarkan badannya di sofa saja, tidak perlu sampai maju seperti sekarang. Maklum, terlalu heboh kalau sudah menyangkut Jeanne.

“Mulut lo belom pernah sekolah?”

Bersamaan dengan itu, dua wanita cantik mendorong pintu kaca tersebut agar terbuka lebar dan tersenyum. Jeanne langsung mengangkat kedua tangannya dan berteriak senang.

“Grettha ku sayaaang!”

“Hai babe! Nih kenalin, temen gue Nina. Dia dulu temen SD gue sebenernya, kita baru ketemu lagi 3 bulan lalu lah. Baru akhirnya stay di Jakarta untuk jangka panjang lagi.” Ujar Grettha panjang lebar dan akhirnya berbalik ke arah wanita yang tadi dipanggil Nina.

“Nina kenalin, yang ini Jo, Satria, Jeanne dan Dhani.”

Dengan girang Nina mengulurkan tangannya ke setiap orang dengan menyebut namanya sebanyak empat kali.

“Kalo lo mau, boleh ni ambil dua cecunguk ini. Udah kelamaan jomblo ini anak berdua gue udah bosen banget liatnya.” Tawa renyah Nina terdengar. Satria hanya terdiam dan memperhatikan dengan seksama.

“Nggak lah, gue juga masih proses memperbaiki diri kali! Nanti kalo udah siap gue kabarin deeeh.” canda wanita yang ternyata memilki sebuah tahilalat di lengan kirinya. Tanda itu tereskpose saat Nina menyisir rambutnya yang akhirnya dia gulung keatas agar tidak merepotkan.

“Iya, kabarin ya Nin. Gue tunggu lho. Nomor hp lo berapa?”

Kelima pasang mata langsung mengalihkan pandangan mereka ke suara yang baru saja tergesa-gesa mengeluarkan ponselnya yang sudah tentu saja di unlock untuk memudahkan si gadis menekan 12 dijit nomor ponsel yang ia miliki. Tawa kembali pecah dalam ruangan itu.

“Sat, pelan pelan anjir. Lo pikir dia siapa lo main minta aja nomornya?” Ucap Jo ditengah-tengah tawanya.

“Lha, kalo temen nya Grettha mah temen gue juga lah!”

Sebuah gulungan tissue kecil melayang ke arah Satria yang berhasil dengan mudah ia tepis.“Apaan sih lo, Je?”

Ponsel yang masih terjulur ditangan Satria menggantung di udara meminta Nina untuk memberitahu nomor ponselnya segera di terima olehnya. Dengan senyum yang terkulum, Nina menekan 12 dijit nomornya di layar dan menekan tombol hijau. Suara dering ponsel terdengan sayup-sayup dari dalam tas seseorang. Di dering ke 3, Nina menekan tombol merah dan mengembalikan ponsel tersebut kepada si empunya.

Yang dengan sigap diterima oleh Satria, ia beralih ke pria yang berada di samping kirinya. “Gitu caranya dapet gebetan, Ardiano Johan. Ga, boleh, cupaps!”

Keempat orang yang menyaksikan hanya bisa terkekeh sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dua orang sahabat yang sudah bersama sejak, mungkin saat ruh mereka baru akan di tiupkan ke janin ibu mereka.


Malam semakin larut, Sean sudah memainkan lagu ketiganya dan dalam ruangan tadi sudah tergeletak 4 botol yang terbuka. Jeanne dan Grettha sudah memasuki gelas ke 3 mereka. Nina yang sedari tadi hanya meminum soda hanya sibuk memainkan alat gawai nya. Ia berjanji pada Grettha untuk membawanya pulang, agar tidak habis dimarahi oleh Ibu.

Nina dengan sigap meletakkan gelas yang selama ini ia genggam di atas meja dan sangat fokus dengan alat gawai yang ia pegang karena sebuah pesan langsung yang masuk di akun twitter keduanya. Jantungnya berdegup kencang, tidak disangka sebuah foto dalam post nya memancing pria yang selama ini mendekam di hati nya, pria yang sama yang mengabaikannya satu tahun terakhir, akhirnya mengirimkan pesan kepadanya.

Namun tak lama, sebuah ekspresi kecewa terukir di wajah wanita tersebut dan membanting alat tersebut kedalam tasnya.

“Gre, Grettha! Balik yuk, udah mau jam 2.”

Yang dipanggil menoleh lemah dan tersenyum. Anggukan kecil diberikan oleh Grettha dan menarik Jeanne bersamanya.

“AYO PULANG. GUE BUTUH APARTMENT LO.” Dengan ganas Grettha meneriakkan kalimat tersebut ke telinga Jeanne yang dihadiahkan sebuah telapak tangan di dahinya.

“Gue cuma tipsy, bukan tuli!”

“Ninaaaaaa, lo bisa bawa mobil kan?” tanya Jeanne sambil merapi kan tasnya dan jaket yang ia sampirkan di lengan sofa sejak tadi.

“Iya, tapi gue butuh alamat lo yaa.”

“Ada ada di hp gue, nih lo aja yang pegang.” Nina menerima ponsel Jeanne dengan sigap karena si empunya hanya memiliki 20% tenaga tersisa. Ponsel tersebut bergetar dua kali dan membuat layar nya menyala. Nina tidak tahu jika semesta bisa sejahat ini, dengan dirinya.


©noircu