O36. Remboelan


“Jeanne?”

Merasa terpanggil, Jeanne mencari-cari submber suara. Hingga seseorang dengan memakai atasan putih polos dan jeans menghampirinya. Bahkan dengan rambutnya yang agak berantakan, wanita didepannya ini bisa dibilang sangat menarik. Beberapa pasang mata sudah melirik kearahnya.

“Gue Nina. Yang di Wings waktu itu. Inget nggak?”

“Oh my god! Bentukan lo kayak gini kalo nggak di tempat yang remang-remang ya? Lo Jeanina yang model ituuuu. Astaga. Hello. Lagi ngapain disini?” Jeanne mengucapkan kalimat panjang tersebut dengan amat terburu-buru sambil memeluk si perempuan berambut pendek didepannya.

“Hahaha. Iya, tadi kesini sama Grettha. Tapi dia langsung ngacir waktu ketemu Bena. Jadi gue bilang gue tunggu di Remboelan aja. Lo sendiri?”

Sambil mengangguk Jeanne menarik Jay yang sedari tadi berdiri bersandar pada ralling kaca dan memeluk lengan kekasihnya dengan santai. “Gue dateng sama cowok gue. Jay kenalin, ini si temen ceweknya Grettha. Harusnya sih lo inget, kan lo ketemu waktu di Wings? Nina ini cowok gue, Jayandra.”

Dibutuhkan sepersekian menit untuk Jay mengulurkan tangannya terlebih dulu pada perempuan yang berada didepan mereka.

“Halo, gue Jay.”

“Nina.” Tangannya menyambut perlahan.

“Kalian mau makan didalem aja nggak? Please banget sama gue, ya?” Sambung Nina sambil melihat kedalam restoran Remboelan yang sedari tadi mereka acuhkan.

“Boleh boleh! Lo udah tag tempat?”

Nina dengan cepat berbalik dan memasuki resto dengan santai. Jay dan Jeanne mengekor dengan cepat. Masih seperti biasanya, Jay tidak banyak bicara dan membiarkan Jeanne menariknya kesana-kemari.

“Ini bookingan Bena sebenernya, gue juga udah pesan minum. Tapi gue liat lo di luar, jadi gue samper biar gue ada temennya.”


Beberapa kali Jay berdeham tidak jelas sambil membaca menu. Jeanne tentu saja akan memesan sate, jika ada. Sayangnya mereka tidak menyediakan menu itu. Pilihan Jeanne jatuh kepada Nasi Goreng Kambing Menteng, sementara Jay memilih Nasi Bakar Cumi Gurih. Nina? Dia bilang dia sedang diet jadi dia hanya memesan Tahu Gejrot.

Tidak ada yang membuka pembicaraan sejak memesan menu hingga beberapa kali pramusaji bolak-balik mengantarkan pesanan ketiganya. Nina masih seperti yang Jeanne sudah pernah lihat di Wings, dia sibuk dengan ponselnya.

“Jay. Lo mau minum air gula jawa?”

“Hah? Lo mabok?”

“Lo yang mabok, anjir. Liat!”

Atensi ketiga pasang mata, dan beberapa pasang milik pramusaji memusatkan pada sedotan yang sudah hampir dimasukkan Jay kedalam mulutnya. Ujung sedotan tersebut berada di piring Tahu Gejrot milik Nina. Tawa Nina pecah sempurna. Beberapa pramusaji berusaha sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan suara sambil menutupi mulut mereka. Tawa renyah terlempar dari bibir Jay.

“Haha, sorry ya Na. Gue pesenin yang baru ya?”

“Gapapa, sih. Kan belom lo minum juga. Lo minta sedotan baru aja gih.”

Pikiran buruk dan aneh berkecamuk didalam kepala Jeanne. Dia merasa sesuatu sedang terjadi. Dan sesuatu ini bukan hal baik.

Dengan cepat Jeanne mengambil ponselnya dan mengetik pesan singkat untuk Grettha. Memohon agar Grettha dengan segera menemuinya di Remboelan. Grettha berjanji akan langsung datang begitu Bena selesai. Yang kemungkinan akan mengulur waktu selama 20menit.

Beruntung, pesanan Jeanne datang. Saved by the bell.

“Aku makan duluan ya?” Barusan adalah suara Jeanne memecah keheningan dan membangunkan Jay dari lamunannya.

“Iya, Na. Makan aja.”

Baik si pria, ataupun kedua wanita yang berada disatu meja yang sama, merasa seperti ada sebuah sendok yang menyangkut di tenggorokan mereka. Tercekat. Panik. Khawatir. Semua berkecamuk menjadi satu.

“Hayo! Pada diem diem aja kenapa?”

Seperti biasa, Grettha memecah keheningan dengan senyumnya yang sangat indah dan suaranya yang terdengar ramah serta riang. Diikuti oleh Bena yang segera mengambil tempat duduk disebelah Nina.

“Halo, gue Bena.” sapa nya pada wanita berbaju putih.

“Oh hi. Gue Nina. Tadi gue sempet liat perform lo sebentar. Lo keren banget!”

“Hahaha. Makasih loh. Ih, gue juga mau pesan dong. Jeanne kok nggak nungguin gue sih pesannya?”

“Keburu tua gue nungguin lo kelar dikerubutin anak SMA.” Seolah lupa dengan kejadian yang baru saja terjadi, juga kedatangan pesanan milk Jay, susasanya tidak lagi terasa mencekat.

Tapi tentu itu tidak terjadi didalam hati ketiganya. Jay, Jeanne dan Nina.


“Nina pulang bareng Grettha yaaa?” Jeanne menyampirkan jaket yang sedari tadi ia bawa tapi selalu enggan ia gunakan. Masih terlalu banyak orang dan mall ini tidak terlalu dingin.

“Eh, iya. Tadi sih perginya bareng. Gre, lo sama Bena?”

Kali ini Bena menggerakkan tangan kirinya ke kiri dan ke kanan selagi tangan kanannya memegang minuman yang sedang dia habiskan.

“No no, gue balik bareng manajer gue. Sorry ya, Gre. Next time gue bawa mobil sendiri deh!”

Sebuah tepukan hangat dari tangan Bena untuk puncak kepala Grettha berhasil membuat wanita itu bersemu malu. Dia hanya berjengit pelan dan mengangguk.

“No problem. But now you've promised. You're gonna drive me home someday!”

“Serem banget si nih cewek. Belum apa-apa gue udah di todong janji, dong?” Lapornya pada Jeanne yang hanya di balas dengan kekehan hangat dari Jay dan Kekasihnya.

“Kalo gitu gue sama Jeanne duluan yaaa. Jauh nih rute gue.” Kalimat tersebut diikuti tawa dari Jay. Sambil berdiri, ia memastikan tangannya berada di pinggang Jeanne yang juga segera berdiri.

“Bye bye! Kabarin ya kalo udah pada sampe rumah!”

Dan malam itu, tidak ada misteri yang terpecahkan. Misteri bagaimana Jay bisa salah sebut nama, juga bisa tiba-tiba hampir mengabiskan kuah Tahu Gejrot milik Nina.


©noircu