O7. Sate Padang dan Bena
“Udah?” Jeanne hanya mengangguk lesu kemudian meminum air mineral dari tumblr yang dia bawa, tidak pernah lupa. Katanya, kita harus sayang bumi!
Dengan senyum yang tersungging kecil di bibir Jay, tangannya terulur untuk mengelus pipi kekasihnya sebelum akhirnya ia bangkit untuk membayar dua porsi sate padang yang sudah berpindah ke perutnya dan Jeanne. Ditambah satu bungkus kerupuk kulit yang setengahnya dilemparkan Jeanne ke Jay karena kesal. Sesungguhnya Jeanne sudah berharap untuk diajak makan sate di daerah Kebayoran. Karena dekat Studio Voyage, tempat siaran radio-nya. Dan itu juga sate favorite Jeanne se-Jakarta. Sungguh, Jeanne memang sesuka itu dengan sate.
Jeanne berjalan mengekor kekasihnya ke tempat Jay memarkirkan mobilnya tadi. Sesaat setelah lampu mobil tersebut berkedip, Jeanne membuka pintu dan duduk di kursi penumpang sebelah pengemudi dengan bibir yang dimajukan seper sekian senti.
“Masih ngambek nih ceritanya?” tanya Jay saat ia memasang sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobil.
“Sedikit.”
“Besok kamu siaran jam berapa?”
“Jam 2. Sama Dhani.”
Jeanne mengamati bagaimana Jay dengan cekatan mengendalikan stir mobil untuk mundur, menekan tombol yang menurunkan kaca dan memberi uang pada bapak tua yang membantu memarkirkan mobil agar tidak terhambat dan menabrak mobil lain dalam satu menit penuh. Jeanne selalu suka melihat bagaimana Jay sangat terlihat gagah saat melakukannya. Terkadang Jay melajukan mobilnya juga dengan gerakan yang lihai walau dalam sebuah percakapan yang cukup intense.
“Yaudah besok aku jemput terus kita makan di Sate Mang Udjo deh ya?”
“Besok jumat loh? Biasanya kafe rame banget pasti!”
“Ya buat apa aku ngehire anak buah kalo aku mulu yang handle? Kayaknya aku juga bakal cari manager untuk Oakwood. Aku mungkin mau buka di toko baru di daerah Radio Dalam.” Jay melirik sambil menaikkan sebelah alisnya, niatnya menggona Jeanne. Diluar dugaan, dia hanya mendapatkan sebuah dengusan kesal. “Lo kira lo oke?”
“Tapi serius? Kayaknya di Oakwood juga baru dua tahunan ga sih? Kalo aku ga salah inget dari cerita kamu sih ya.” sambung Jeanne.
“Ya gapapa. Maksudku, di Oakwood kan kelas perkantoran. Menurutku Truely nggak akan mati di sana. Selalu akan ada manusia-manusia yang akan mati stress tanpa kopi dan rokok. Tapi, belum tentu juga bener di Radio Dalam. Aku masih cari beberapa spot lain juga.”
Jay berbelok ke arah Senopati, dan berhenti di depan ruko 4 tingkat sejajaran Pasar Santa. Sebuah tempat yang terlihat tidak menarik, padahal dibalik pintu kaca dengan ukiran kayu sebagai aksennya ada beribu tawa dan keseruan yang tersimpan rapat. Jay menarik rem tangannya dan menyamankan diri menghadap kekasihnya di sebelah kiri.
“Mau aku temenin cari spot nya?” sebuah tawaran yang jarang dikeluarkan oleh Jeanne karena dia cukup sibuk, sebagai penyiar pada hari kerja dan florist pada akhir pekan. Sebenarnya florist bukan pekerjaan yang ingin Jeanne tekuni. Tapi ia sangat menikmati saat-saat merangkai berbagai jenis bunga dan di gabungkan dalam satu pot atau bucket.
“Boleh. Tapi jawab satu pertanyaanku dulu.”
“hm?”
“Bena masih suka ajak kamu keluar?”
“Sering lah. Bena kan temanku. Dia juga suka main ke Voyage kok!” Tanpa disadari, Jay memutar bola matanya kesal. Si Bena Bena ini nggak takut gue habisin apa ya?, pikirnya.
“Kenapa? Kamu masih cemburu sama Bena?”
“Iya lah, Je. Cowok mana yang nggak kesel ceweknya diajak jalan mulu sama cowok lain?” Suara Jay mulai meninggi tanpa ia sadari.
“Jay.” panggil Jeanne. Hanya dibalas lirikan oleh si empunya nama.
“Kamu nggak capek tiap bulan, ada kali 3x kamu bahas kecemburuan kamu soal Bena dan 3x juga aku jelasin ke kamu aku gak mungkin suka sama Bena karena Bena itu gay!”
Si pria hanya membalas dengan dengusan kesal. “Jeanne, gue gak bego. Bena tuh nggak Gay.”
“Ih. Orang dia selalu bawa Hansel kalo dia mampir ke Voyage. Udah ah, udah waktunya aku siap siap siaran. Jangan lupa, stay tune on my Bon Voyage at Truely, okay? Love you.”
Sebuah kecupan singkat di pipi Jay berhasil dicuri oleh sang kekasih yang kemudian bersemu malu dan buru-buru turun untuk memasuki pintu kaca yang sedari tadi menonton mereka berdua berdebat didalam mobil. Sebelum benar-benar membuka pintu dengan lebar, Jeanne melambaikan tangannya dan tersenyum ke arah mobil berkaca gelap di depannya. Sebuah senyuman hangat terukir di bibir pria bermata sipit itu.
©noircu